Minggu, 23 Agustus 2015

Wisata Museum Brawijaya Malang

Ternyata selain terkenal akan destinasi agrowisata dan air terjun, Malang masih memiliki wisata sejarah yaitu Museum Brawijaya Malang. Museum ini terletak di jl. Ijen, Malang, Jawa Timur. Letaknya berada di pusat kota Malang, sehingga mudah dijangkau para wisatawan. Di depan museum Brawijaya, Anda disambut dengan Tank TNI, Tank ini siap menembak hehehe.

Pada hari-hari sekolah museum Brawijaya ramai dikunjungi siswa-siswi untuk melakukan observasi atau membuat laporan pengamatan dari guru sejarah. Biasanya mereka datang perkelas atau kelompok yang didamping bpk/ ibu guru. Jadi mengajak putra-putri Anda untuk berkunjung ke sini merupakan cara yang terbaik mengenalkan sejarah kota Malang.
Tank TNI
Tank TNI

Ketika masuk museum, Anda disuguhkan beberapa peninggalan sejarah seperti mobil Kolonel Sungkono, koleksi peninggalan sejata api seperti tembak dan meriam. Selain itu bagi yang suka sejarah komputer, di museum ini ada komputer IBM tahun 50an. Yang paling mengerikan lagi ada gerbong di tengah museum Brawijaya. Menurut cerita penjaga museum, gerbong tersebut untuk mengangkut para warga pribumi dari Probolinggo - Malang. Sesampainya di Malang, di diamkan di dalan gerbong dan dikunci selama satu bulan. Banyak warga yang tewas dalam gerbong tersebut.
Gerbong Maut Yang Membunuh Penduduk Pribumi
Gerbong Maut Yang Membunuh Penduduk Pribumi

Komputer IBM Klasik di Museum Brawijaya Malang
Komputer IBM Klasik di Museum Brawijaya Malang

Museum Brawijaya didirikan atas ide dan inisiatif dari Brigjend TNI (Purn) Soerachman, yang menjabat sebagai Pangdam VIII/Brawijaya pada tahun 1959-1962. Upaya untuk mendirikan museum sebetulnya telah dilakukan oleh Brigjend TNI (Purn) Soerachman semenjak tahun 1962. Namun, inisiatif tersebut baru direalisasikan pada tahun 1967, setelah mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah Kotamadya Malang dan bantuan biaya dari Sdr. Martha, seorang pengusaha dan pemilik hotel Tretes Pandan.
Sedan Klasik Milik Kolonel Sungkono
Sedan Klasik Milik Kolonel Sungkono

Pembangunan museum diarsiteki oleh Kapten Czi Ir.Soemadi, dan proses pembangunannya selesai pada tahun 1968. Pemberian nama "Museum Brawijaya" ditetapkan berdasarkan keputusan Pangdam VIII/Brawijaya tanggal 16 April 1968, sekaligus dengan pemberian kalimat sesanti atau wejangan, Citra Uthapana Cakra. Sesanti tersebut dalam bahasa Indonesia berarti "Sinar yang membangkitkan semangat". Meskipun telah ditetapkan namanya, namun peresmian museum baru dilaksanakan pada tanggal 4 Mei 1968.

Benda-Benda Koleksi Di Museum Brawijaya
Benda-benda koleksi di Museum Brawijaya disimpan dan dipamerkan dalam beberapa lokasi, yaitu di halaman depan, ruang lobi, halaman tengah, ruang koleksi I, ruang koleksi II, dan perpustakaan.

Halaman Depan
Halaman Depan diberi nama Agne Yastra Loka, yang merupakan taman senjata api pada masa Revolusi 1945.
  1. Tank Jepang yang dirampas oleh arek-arek Suroboyo dan dipergunakan sebagai senjata dalam perang 10 November 1945.
  2. Penangkis Serangan Udara (PSU), dikenal dengan Pompom Double Loop milik tentara Jepang, yang direbut oleh BKR pada bulan September 1945. Senjata ini berhasil menembak dua pesawat tempur milik Belanda dalam pertempuran di barat Bangkalan.
  3. Meriam Si Buang milik tentara Belanda, berukuran 3,7 Inch, yang dirampas oleh TKR dan laskar pejuang dalam pertempuran tanggal 10 Desember 1945, yang berlangsung selama 6 jam di pos pantai Desa Betering. Seorang prajurit TKR bernama Kopral Buang gugur dalam pertempuran tersebut, sehingga untuk mengenang perjuangannya, meriam hasil rampasan ini diberi nama Si Buang.
  4. Tank Amfibi AM Track, pernah digunakan oleh tentara Belanda yang mendapatkan perlawanan sengit oleh pasukan TRIP dalam pertempuran di Jalan Salak.
  5. Patung Jenderal Sudirman.
Ruang Lobi
Di ruang lobi, terdapat dua relief di sebelah utara dan selatan, dan dua perangkat lambang-lambang kodam di seluruh Indonesia. Relief sebelah selatan menggambarkan wilayah kekuasaan Majapahit beserta armada lautnya yang sangat kuat, sehingga mampu mempersatukan seluruh Nusantara. Juga terdapat pahatan Raden Wijaya dalam bentuk Harihara. Relief sebelah utara menggambarkan daerah-daerah tugas pasukan Brawijaya dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, menumpas sparatis dan pengacau keamanan, serta tugas internasional di luar negeri sebagai pasukan perdamaian PBB.

Halaman Tengah
Di halaman tengah terdapat dua buah benda koleksi yang sangat fenomenal, yaitu Gerbong Maut dan Perahu Segigir.

Ruang Koleksi I
Di ruang ini, pengunjung akan menemukan berbagai benda-benda koleksi, terutama berhubungan dengan perjuangan pada masa perang mempertahankan kemerdekaan, sekitar tahun 1945-1949. Berikut beberapa benda koleksi di Ruang Koleksi I:
  1. Foto-foto Panglima Kodam di Jawa Timur sejak 1945 sampai sekarang
  2. Lukisan pakaian seragam PETA, HEIHO, dan pejuang
  3. Lukisan Pamen, Pama, Bintara, dan Tamtama prajurit PETA
  4. Burung merpati pos yang pernah digunakan sebagai kurir di daerah Komando Ronggolawe, Lamongan/Bojonegoro dengan front Surabaya pada tahun 1946
  5. Termos dibuat dari tempurung kelapa yang pernah digunakan oleh tentara PETA pada masa penjajahan Jepang
  6. Pedang samurai sebagai kelengkapan perwira Jepang yang berhasil direbut TKR dari tentara Jepang di perkebunan Ngrakah, Sepanon, Kabupaten Kediri
  7. Meja kursi yang digunakan untuk perundingan penghentian tembak-menembak (gencatan senjata) antara TKR/pejuang dengan Sekutu di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1945. Pihak Indonesia diwakili oleh Bung Karno, sedangkan pihak Sekutu diwakili oleh Mayjen Havtorn dan Brigjen Mallaby
  8. Senjata buatan pabrik senjata Mrican, Kediri tahun 1945-1946
  9. Alat perhubungan atau radio yang pernah digunakan oleh Denhub Brawijaya pada tahun 1945-1946
  10. Lukisan pertempuran Surabaya sekitar 10 November 1945
  11. Senjata-senjata hasil rampasan
  12. Peta pendudukan musuh dan kantong-kantong gerilya serta garis pertahanan TKR
  13. Peta Perang Kemerdekaan I (21 Juli 1947)
  14. Peta Perang Kemerdekaan II (19 Desember 1948)
  15. Peralatan yang pernah dipakai Jenderal Sudirman saat memimpin gerilya di Desa Loceret, Bajulan, Nganjuk
  16. Peta rute gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman
  17. Alat-alat kesehatan yang pernah digunakan dr.Harjono yang gugur menghadapi Belanda dalam pertempuran di Krian, Mojokerto pada tahun 1948
  18. Pakaian dan mantel Letkol dr.Soebandi, dokter Brigade III/Damarwulam merangkap Resimen Militer Jember
  19. Peralatan yang pernah digunakan Kapten Soemitro dalam Perang Kemerdekaan di Nongkojajar, Pasuruan pada tahun 1948
  20. Lukisan Jenderal Sudirman mengadakan inspeksi pasukan di Malang dalam rangka persiapan pemulangan tawanan perang Jepang
  21. Lukisan pertempuran terbunuhnya Brigjen AWS Mallaby di depan Gedung Internatio, Jembatan Merah, Surabaya pada tanggal 30 Oktober 1945
  22. Lukisan pertempuran di depan Gedung Kempetai (markas tentara Jepang); tempat ini sekarang didirikan Tugu Pahlawan
  23. Lukisan pemberangkatan tawanan Jepang di Stasiun KA Malang selatan (Stasiun Kota Lama) pada tahun 1945
  24. Lukisan pemberangkatan tawanan Jepang ke Pelabuhan Probolinggo menuju Pulau Galang pada tahun 1945
  25. Lukisan serah terima samurai dari Brigjen Wabe Sigewa kepada Jenderal Sudirman pada tanggal 28 April 1946 Malang
  26. Mata uang yang pernah berlaku di Indonesia pada masa revolusi
  27. Senjata peninggalan TRIP yang pernah dipakai dalam pertempuran di Gunungsari tanggal 28 November 1945
  28. Mobil sedan keluaran pabrik Desoto USA tahun 1941 yang pernah digunakan Kolonel Sungkono, Panglima Divisi I/Jawa Timur 1948
  29. Panji-panji/lambang-lambang satuan yang pernah digunakan oleh kesatuan-kesatuan Kodam VIII/Brawijaya pada tahun 1945.
Ruang Koleksi II
Ruang koleksi ini menyimpan benda-benda bersejarah pada masa Revolusi Indonesia setelah kemerdekaan, yaitu pada periode tahun 1950-1976. Sejumlah koleksi benda-benda dimaksud antara lain:
  1. Peta kota Malang dan perkembangannya
  2. Foto-foto burgemester dan walikota Malang dari zaman pemerintahan Belanda sampai sekarang
  3. Meriam dan bejana besi
  4. Senjata rampasan dari PRRI/Permesta
  5. Komputer pertama yang digunakan oleh Jawatan Keuangan, Kodam VIII/Brawijaya
  6. Maket patung Raden Wijaya sebagai Prabu Brawijaya
  7. Teks Sapta Marga dan Sumpah Prajurit dari marmer
  8. Peta penugasan pasukan Brawijaya
  9. Alat musik yang dipernah digunakan oleh Detasemen Musik Kodam V/Brawijaya
  10. Peralatan perang yang pernah digunakan pasukan Brawijaya untuk merebut Irian Barat pada Operasi Trikora tanggal 19 Desember 1961
  11. Peralatan tradisional rakyat Irian Jaya
  12. Lukisan timbul Mayjen Soeharto sebagai Panglima Mandala dalam rangka merebut kembali Irian Barat
  13. Atribut Kapten dr.Arjoko dari Jawatan Kesehatan Kodam VIII/Brawijaya yang gugur di Irian Jaya pada bulan Maret 1964 akibat pesawat udara yang ditumpanginya jatuh di Ganyem, Irian Jaya
  14. Bendera Katanga
  15. Pakaian seragam tentara Papua buatan Belanda
  16. Meja dan lilin yang pernah digunakan sesepuh Brawijaya untuk asas pembinaan keluarga besar Brawijaya pada tahun 1966 di Candi Panataran
  17. Peralatan topografi yang pernah digunakan oleh Brigade Topografi Angkatan Darat pada tahun 1945
  18. Senjata-senjata hasil rampasan Operasi Trisula dalam rangka penumpasan sisa-sisa komunis di Blitar Selatan tahun 1968
  19. Senjata-senjata hasil rampasan Operasi Seroja di Timor Timur oleh pasukan Brawijaya tahun 1975-1976
  20. Album nama prajurit Brigif 2 Dharma Yudha yang gugur dalam Operasi Seroja
  21. Bendera Portugal hasil rampasan Brigif Linud 18 pada Operasi Seroja 1975
  22. Mata uang Jepang yang beredar di Indonesia
  23. Patung burung elang merupakan lambang satuan Brigif 10 yang dilikuidasi pada tahun 1975
  24. Piala dan tanda penghargaan dari satuan Kodam Brawijaya yang dilikuidasi.
Transportasi Menuju Museum Brawijaya Malang
Dari arah mana saja, Anda dapat menggunakan mobil/ motor pribadi kemudian menuju jl. Ijen (Boulevard Ijen Malang) letaknya sebelah barat MOG dan stadion Gajayana, atau sebelah timur Universitas Negeri Malang.

Dengan kendaraan umu (len) bisa naik len dengan kode LG dan GL, kemudian turun di depan Museum Brawijaya Malang.

Harga Tiket Masuk Museum Brawijaya Malang
Tiket masuk: Rp. 2.000

= > Silahkan berkomentar sesuai artikel di atas
= > Berkomentar dengan url (mati/ hidup) tidak akan dipublish
EmoticonEmoticon