Selasa, 05 April 2016

10 Tempat Wisata di Kabupaten Ngada, Bajawa

Sejak tahun 2011 pemerintah memfokuskan Indonesia Timur sebagai tujuan wisata Nasional dan Internasional selain Bali. Salah provinsi yang memiliki banyak destinasi wisata adalah Flores Nusa Tenggara Timur, yaitu kabupaten Ngada. Uniknya lagi ketika berkunjung ke sana banyak wisatawan asing yang telah berkunjung sedangkan wisatawan lokal dari Indonesia jarang yang ke sana. Kesimpulannya para bule lebih menyukai wisata alam yang benar-benar indah dan alami.

Bajawa adalah ibu kota kabupaten Ngada, banyak orang yang mengatakan Ngada alah Bajawa, padahal Bajawa adalah kecamatan yang sekaligus sebagai pusat ibu kota kabupaten Ngada. Bajawa, terletak di jantung Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Menurut penduduk setempat, Bajawa merupakan kota yang berada didalam mangkok atau memiliki bentuk seperti mangkok, dan banyak penduduknya berasal dari pulau jawa. Karena nama Bajawa berasal dari kata Ba yang berarti mangkok, dan Jawa yang artinya Pulau Jawa. Bentuk kota Bajawa yang seperti mangkok ini karena, kota ini dikelilingi oleh gunung dan bukit-bukit. Jumlah penduduk di Bajawa kurang lebih ada 15 ribu orang. Kota ini juga telah memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk menyambut para turis, baik domestik maupun asing.

10Tempat Wisata di Kabupaten Ngada, Bajawa:

1. Air Terjun Ogi Bajawa

Air terjun Ogi terletak di desa Faobata, kecamatan Bajawa, Flores. Air terjun ini sangat mudah dicapai karena sangat dekat dengan Bajawa. Letaknya sekitar 7 km dari kota Bajawa. Tetapi karena sedikitnya penunjuk jalan yang ada untuk menuju ke lokasi, para pengunjung disarakan untuk bertanya kepada penduduk setempat untuk memperoleh informasi. Air terjun yang memiliki ketinggian kira-kira 30 meter ini, dikelilingi oleh pepohonan rindang, dan udara yang sejuk, membuat saya sendiri ingin cepat-cepat mengunjunginya..

2. Kampung Bena Kabupaten Ngada

Kampung Bena, adalah salah satu perkampungan Megalitikum. Kampung ini terletak di Kabupaten Ngada, Flores, provinsi Nusa Tenggara Timur. Kampung ini tepatnya terletak di desa Tiwuriwu, kecamatan Jerebu, kabupaten Ngada. Jarak kampung ini dari pusat kota Bajawa sekitar 19 km. Letak kampung ini berada di kaki gunung Inerie. Masyarakat di Kampung Bena percaya bahwa gunung adalah tempat dewa. Dan mereka meyakini keberadaan Yeta. Yeta adalah dewa yang bersinggasana di gunung tersebut yang telah melindungi kampung mereka.

Bentuk kampung ini memanjang, dan memiliki kontur tanah yang miring. Pintu masuk kampung berada di arah utara. Dan di arah selatan merupakan puncak dan tebing yang terjal. Letak rumah-rumah pada kampung ini berhadap-hadapan dalam dua barisan. Pada awalnya hanya ada satu suku dikampung ini yaitu suku Bena. Perkawinan dengan suku lain akhirnya melahirkan suku-suku baru yang membentuk keseluruhan penduduk kampung Bena. Hal ini terjadi karena penduduk Kampung Bena menganut sistem kekerabatan (matriarkat). Sekarang, ada kurang lebih 40 rumah yang telah dihuni oleh 9 suku yaitu: suku Bena, suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago.
                       
Rumah di kampung ini mempunyai bentuk yang seragam. Dari dinding yang terbuat dari kayu dan bambu, sampai ke atap yang tinggi yang terbuat dari ijuk. Di tengah kampung terdapat beberapa bangunan yang mereka sebut sebagai Bhaga dan Ngadhu. Bangunan Bhaga ialah bangunan yang berbentuk mirip pondok kecil (tanpa penghuni). Sedangkan Ngadhu, adalah bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijuk hingga bentuknya menjadi seperti pondok peneduh. Tiang Ngadhu berasal dari kayu khusus yang keras yang berfungsi sebagai tiang gantungan saat sedang mengadakan pesta adat.

Di tengah lapangan, terdapat juga sebuah lapangan terbuka yang terdapat batu-batu Megalitikum yang merupakan makam para leluhur. Selain, kedua bangunan tersebut, ada bangunan lainnya seperti, Sakalobo. Sakalobo adalah rumah keluarga inti pria, yang telah ditandai dengan adanya patung pria yang sedang memegang parang dan busur panah di atas rumah itu. Dan, Sakapu'u, merupakan rumah keluarga inti perempuan. Pada bagian depan beberapa rumah, dipajang tanduk kerbau dan rahang babi. Ini menandakan bahwa keluarga yang menempati rumah yang telah dipajangi dengan  tanduk kerbau telah berbuat suatu kebaikan untuk orang miskin. Sedangkan rahang babi menunjukan babi yang telah dipotong untuk digunakan pada upacara Kasao. Kasao sendiri adalah upacara pembuatan rumah yang digunakan oleh Kampung Bena.

Penduduk kampung Bena  termasuk ke dalam suku Bajawa. Saat ini, mayoritas penduduk di kampung tersebut adalah agama penganut agama Katolik. Pada umumnya mereka bermata pencaharian sebagai peladang/ petani. Bagi kaum wanita, masih ditambah dengan bertenun. Penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani selalu menggelar pesta adat Reba dalam setiap tahunnya. Reba merupakan suatu pesta adat yang diadakan pada bulan Desember atau Januari, untuk melakukan syukuran atas apa yang telah diperoleh masyarakat kampung tersebut dalam satu tahun. Serta, masyarakat juga memohon keberhasilan pada masa mendatang. Selain untuk mewujudkan syukur kepada Tuhan, Reba juga sekaligus sebagai ritual untuk menghormati nenek moyang. Pada saat prosesi Reba berlangsung, semua anggota keluarga berkumpul dalam sebuah rumah adat dan harus memakai pakaian adat Kampung Bena.

Kampung Bena, belum pernah tersentuh teknologi. Arsitektur bangunan masih sangat sederhana. Kampung Bena diperkirakaan telah ada sejak 1.200 tahun yang lalu, berdasarkan catatan yang ada pada menurut catatan pemerintah Kabupaten Ngada. Mereka masih dengan teguh untuk memegang adat istiadat yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Masyarakat di Kampung Bena tidak mengeksploitasi lingkungannya yang berupa lahan pemukiman dibiarkan sesuai kontur asli tanah di daerah itu yaitu tanah berbukit.

Kampung Bena berbentuk seperti perahu, yang menurut kepercayaan zaman megalitikum perahu dianggap punya kaitan dengan wahana bagi arwah untuk menuju ke tempat tinggalnya. Perahu ini mempunyai nilai kerjasama, gotong royong, dan kerja keras yang telah para leluhur contohkan saat mereka menaklukkan alam, dan mengarungi lautan untuk sampai ke Bena. Jika ingin mengunjungi Kampung Bena, pengunjung tidak dikenakan biaya masuk. Para pengunjung hanya diminta untuk mengisi buku tamu yang  telah disediakan, dan memberikan donasi seiklasnya kepada kampung tersebut, yang nantinya donasi yang telah terkumpul akan digunakan untuk pemeliharaan kampung agar segala budaya dan adat istiadat Kampung Bena dapat terjaga. Karena hal ini, pantaslah Kampung Bena dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia (UNESCO) pada tahun 1995.

3. Gunung Inerie Kabupaten Ngada

Gunung Inerie, adalah gunung tertinggi dari sekian banyak gunung yang berada di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Flores. Gunung ini memiliki ketinggian 2.245 meter diatas permukaan laut, yang berbentuk seperti kerucut.

Jika ingin mendaki gunung ini, titik awal pendakian berada di desa Watumeze yang berjarak sekitar 30 menit ditempuh dari Bajawa. Pendakian yang berawal dari desa Watumeze sampai ke puncak gunung ini, dapat memakan waktu tiga jam. Jika sudah sampai ke puncak Gunung Inerie, dapat terlihat pemandangan kota Bajawa, laut Sawu, dan hutan-hutan yang masih hijau rindang di wilayah Kabupaten Ngada, Bajawa.

4. Wisata Alam Laut 17 Riung Kabupaten Ngada

Wisata Alam Laut 17 Pulau Riung terletak di kecamatan Riung, sebelah utara wilayah Kabupaten Ngada. Jarak dari Bajawa ibukota Kabupaten Ngada 75 Km, dapat ditempuh selama 2 1/2 jam dengan kendaraan umum maupun pribadi. Kawasan Taman Laut tersebut sebagian wilayahnya terletak di daratan pulau Flores serta sebagiannya di perairan teluk Riung dengan tebaran pulau-pulaunya yang sangat indah.

Terletak di perairan desa Tadho, Kelurahan Benteng Tengah, Kelurahan Nangamese, Lengkosambi, desa Sambinasi dan desa Latung kecamatan Riung. Di kawasan ini terdapat 17 pulau besar dan kecil yang letaknya berdekatan satu sama lain. Pulau-pulau itu adalah pulau Pata, Bangko, Rutong, Bampa, Sua, Telu, Mborong, Kolong, Ontoloe, Sui, Wire, Meja, Wawi, Batu, Taor, Laingjawa, Wingkureo. Pulau-pulau tersebut dapat dilihat dengan berkeliling menggunakan Speedboat selama kurang lebih dua setengah jam. Perairan di kawasan ini memiliki beberapa jenis karang yang keras dan lembut, dan ada juga ikan hias berwama-warni. Semua keindahan bawah taut tersebut dapat dinikmati dengan mata telanjang dari atas perahu pada saat laut dalam keadaan tenang di pagi hari sekitar pukul 05.00 – 06.00.

Bila wisatawan ingin menikmati keindahan bawah laut secara langsung, maka dapat memanfaatkan peralatan diving yang tersedia di Wisma Pesona Riung. Di wilayah darat kawasan ini terdapat Kadal Raksasa langka yang biasanya disebut Mbou oleh masyarakat setempat, atau biasanya di sebut juga Mbou Riung. Mbou Riung ini sama jenisnya dengan Varanus Komodoensis di Pulau Komodo, hanya warnanya lebih menarik. Selain itu, masih ada bentangan pasir putih di Pulau Rutong dan Ribuan Kelelawar di Pulau Ontoloe yang cukup menarik minat para pengunjung.

5. Wisata Mawar Laut Kabupaten Ngada

Objek Wisata Mawar Laut merupakan salah satu Primadona daya tarik obyek wisata yang terdapat di kawasan Taman Wisata Alam Riung. Mawar Laut merupakan kumpulan telur Kelinci Laut yang saling melekat satu dengan yang lainnya dan menyerupai bunga Mawar. Mawar laut tersebut tumbuh dan melekat pada batu karang di dasar laut pada kedalaman antara 5 sampai dengan 10 meter dibawah permukaan laut. Untuk menikmati keindahan mawar laut tersebut para wisatawan harus bisa menyelam dengan menggunakan peralatan renang yang disediakan oleh Bidang Pariwisata Pemda Ngada yang tersedia di Wisma Riung Pesona. Para penyelam dapat meminta bantuan tenaga terampil pemandu wisata yang telah berpengalaman.

6. Pulau Kelelawar Kabupaten Ngada

Pulau kelelawar bakau berdiam dan menghiasi pulau terbesar di teluk Riung yakni pulau Ontoloe. Kelelawar-kelelawar bakau tersebut bergantungan pada ranting-ranting bakau baik siang maupun malam hari. Sungguh merupakan pemandangan yang sangat menakjubkan karena sangat banyak jumlahnya mencapai puluhan ribu ekor. Kelelawar bakau tersebut bergantungan pada ranting bakau yang rendah dan relatif cukup mudah terjangkau. Oleh deru mesin dan bunyi sirene Speed Board yang mendekat ke arah kelelawar-kelelawar tersebut beterbangan di sekitar lokasi pemukimannya sampai dengan saat pengunjung meninggalkan lokasi mereka.

7. Pulau Pasir Putih Kabupaten Ngada

Pulau Pasir Putih adalah Salah satu daya tarik wisata kawasan 17 pulau Riung, pulau Rutong yang memiliki pasir putih yang terkenal sangat indah. Sangat baik untuk mandi, berjemur dan beristirahat. Pulau Rutong letaknya sangat dekat dengan lokasi tebaran beraneka jenis terumbu karang. Berbagai jenis terumbu karang tersebut ada yang keras maupun lembut.

Terumbu karang yang beraneka ragam dan sangat menakjubkan. Dapat dilihat dengan mata telanjang dan jaraknya relatif sangat dekat di kedalaman antara 1 meter sampai dengan 20 meter. Bagi pengunjung yang ingin menikmati keindahan panorama alam bawah laut hendaknya berangkat ke lokasi tersebut kurang lebih jam 06.00 pagi saat air laut masih tenang.

8. Pemandian Air Panas Mengeruda Bajawa

Permandian Air Panas Mengeruda terletak di desa Piga kecamatan Soa, 25 km ke arah utara kota Bajawa. Airnya mengandung belerang yang berkasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Saat ini obyek wisata air panas Mengeruda sedang dilengkapi dengan beberapa fasilitas antara lain Cottage/ penginapan, kolam renang permanen, restoran, pelataran parkir dan lain sebagainya untuk kepentingan wisatawan.

9. Objek Wisata Lekolodo Bajawa

Obyek wisata Lekolodo terletak kurang lebih 10 km di jalan raya Bajawa-Aimere. Memiliki keunikan pemandangan alam yang masih terjaga kelestariannya. Terdapat air terjun dan kolam renang alami yang dapat digunakan sebagai tempat peristirahatan untuk melepaskan berbagai kepenatan akibat berbagai kesibukan harian. Juga sangat baik untuk dijadikan lokasi olahraga mendaki gunung dengan tantangan yang cukup berat karena terletak di lereng gunung Inerie.

10. Kawah Wawomuda Bajawa

Kawah ini terletak di dusun Ngoranale, kelurahan Susu, kecamatan Bajawa, kabupaten Ngada. Untuk mencapainya, harus berkendara selama kurang lebih 15 menit dan mendaki gunung dengan berjalan kaki sekitar 30 menit (setengah jam).

Kawah Wawomuda terbentuk pada tahun 2001 setelah gunung Wawomuda meletus. Setelah meletusnya gunung tersebut, terbentuklah kawah ini. Kawah ini memiliki tiga kawah kecil dengan warna yang berbeda, yaitu kuning, coklat, dan merah kecoklatan. Kawah ini sering pula disebut Mini Kelimutu, karena perubahan warna pada kawah ini terjadi dari hasil reaksi vulkanis serta mikroorganisme yang ada di air kawah.

3 comments

= > Silahkan berkomentar sesuai artikel di atas
= > Berkomentar dengan url (mati/ hidup) tidak akan dipublish
EmoticonEmoticon